Showing posts with label chemical. Show all posts
Showing posts with label chemical. Show all posts

Sep 26, 2018

SHEA BUTTER VS COCOA BUTTER SKIN CARE

Cocoa butter and shea butter are two of nature's richest moisturizers, all-natural beauty products that can do wonders for your skin. Each has been used for centuries as a beauty product, and both are commonly found in creams and lotions. However, there are notable differences between the two that can affect your skin for the better or for the worse.

Origin
Both shea and cocoa are naturally occuring substances. Shea butter is also known as karite butter. It's made from the nuts of the karite tree found in West and Central Africa. Shea butter is sometimes called "women's gold," because its harvest and production creates jobs for many African women. Cocoa butter is extracted from cacao seeds, also known as cocoa beans. It's native to the Americas and is a traditional moisturizer in Mesoamerica and the Caribbean.

Moisturizing Qualities
Cocoa butter and shea butter are similarly prized as moisturizers. Both contain fatty acids, which improve skin moisture retention and elasticity. Both are effective in easing skin problems such as eczema or psoriasis. Most people agree that cocoa butter's smell is very pleasant, and some use it for aromatherapy; shea butter's fragrance, on the other hand, is sometimes described as off-putting or even stinky.

Skin Repair and Health
Cocoa butter contains cocoa mass polyphenol (CMP), which helps ease dermatitis or rashes. CMP may also inhibit the growth of cancerous cells and tumors.

Shea is a good source of vitamins A and E, which strengthen your skin and help it repair damage. A 2009 study found that the caffeic acid in shea butter reduced the damaging effects of UV radiation. In addition, shea butter contains cinnamic acid: a 2010 study found that it could repel both inflammation and tumors.

Acne, Stretch Marks and Scars
For acne-prone skin, shea butter is a wiser choice than cocoa butter. Cocoa butter will clog your pores, according to a report by Beneficial Botanicals. Shea butter is non-comedogenic, meaning your pores will stay clear. It may also help reduce the appearance of acne scars, because its antimicrobial properties can fight off infections.

Cocoa butter has traditionally been recommended to pregnant women who have stretch marks. However, a 2008 study found that it was no more effective on stretch marks than a placebo lotion.

Quality
Raw, unrefined cocoa butter and shea butter have the most nutritive value to your skin, but can be difficult to find. Many products claiming to contain cocoa or shea have them in refined form, with additives and ingredients that may or may not heal your skin. You may need to pay more to receive the true benefit of these butters.

In addition, shea butter quality can range quite a bit. Do you research before buying an inferior product: low-grade shea is useful only as a moisturizer.



Bynaturael Products:
Liquid Castile Soap










Dapat dibeli di (scan QR code):









This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

Feb 1, 2018

Mi Instan atau Nasi, Mana yang Lebih Cepat Bikin Gemuk?


KOMPAS.com - Mi instan dan nasi adalah makanan yang banyak ditemui di Indonesia. Namun, bagi kamu yang sedang menjaga berat badan, memilih di antara kedua jenis makanan ini bisa jadi cukup sulit karena keduanya gampang bikin gemuk.

Sebenarnya yang mana yang lebih cepat bikin gemuk dan harus dihindari ketika sedang menurunkan atau mempertahankan berat badan?

Mi instan dan nasi berasal dari biji-bijian olahan. Keduanya sama-sama berfungsi sebagai sumber karbohidrat. Karbohidrat adalah bagian penting dalam menu makanan sehari-hari untuk menyediakan energi utama tubuh. Tubuh akan memecah karbohidrat menjadi gula, yang selanjutnya digunakan sebagai energi dalam tubuh. Tanpa karbohidrat, tubuh bisa lemas tak bertenaga.

Baik mi dan nasi, keduanya sama-sama karbohidrat yang dibutuhkan yang bisa kamu pilih salah satu dalam sekali makan (sebaiknya tidak dimakan bersamaan, misalnya mi instan pakai nasi putih). Satu bungkus mi instan biasanya besar porsinya bervariasi, yaitu sekitar 75-90 gram. Jumlah kalori sebungkus mi pun akan berbeda-beda, umumnya sekitar 350-500 kalori.

Jika dilihat dari ukuran rata-ratanya, mi instan yang beratnya 85 gram mengandung: 
  • 460 kalori
  • 18,8 gram lemak
  • 9 gram protein
  • 66 gram karbohidrat

Sedangkan jika kamu mengambil secentong penuh nasi putih atau sekitar 100 gram, maka  kandungannya:
  • 175 kalori
  • 0,2 gram lemak
  • 4 gram protein
  • 40 gram karbohidrat

Dari nilai-nilai tersebut, jika keduanya sama-sama diolah tanpa tambahan minyak atau zat yang mengandung kalori lain, maka mi instan menjadi makanan yang lebih berat dibandingkan nasi.

Artinya, dengan jumlah porsi yang sama, sebungkus mi instan menyumbang lebih banyak jumlah kalori, lemak, dan karbohidrat untuk tubuh. Dilansir dalam laman NHS UK, salah satu faktor yang membuat berat badan meningkat adalah konsumsi makanan yang tinggi kalori, khususnya lemak dan gula.

Berdasarkan nilai gizi yang sudah dibandingkan di atas, itu berarti mi instan bisa menumpuk kalori, lemak, dan gula yang lebih banyak dibanding nasi. Maka, kemungkinan mi bisa meningkatkan berat badan lebih cepat. Akan tetapi, tentunya ini akan terjadi jika kamu mengonsumsinya tanpa diiringi dengan aktivitas fisik yang sepadan.

Jadi, sebaiknya kalau tidak ingin kegemukan makan yang mana?

Sebenarnya, makan nasi dan makan mi tidak ada yang dilarang. Yang harus menjadi pertimbangan adalah jumlah yang dimakan dan bagaimana cara pengolahannya. Meskipun nasi menyumbang kalori, lemak, dan gula yang lebih kecil, jika porsinya berlebihan dan ditambah lauk pauk berisi aneka ragam gorengan, nasi bisa juga cepat membuat gemuk.

Sebaiknya hindari konsumsi mi instan setiap hari karena berisiko memengaruhi tekanan darah. Sebungkus mi instan bisa mengandung 900-1.700 mg natrium. Padahal batas asupan natrium per hari orang dewasa saja 1.500 mg.

Jika setiap hari makan mi instan, berapa banyak natrium yang akan terkumpul dalam tubuh? Kebanyakan natrium bisa memicu kondisi tekanan darah tinggi (hipertensi). Yang paling penting, jika tidak ingin cepat gemuk dan tetap sehat, tambahkan sumber karbohidrat lain dalam menu makan yang kaya akan serat seperti sayur dan buah-buahan.

http://lifestyle.kompas.com/read/2018/01/29/140812820/mi-instan-atau-nasi-mana-yang-lebih-cepat-bikin-gemuk

Bynaturael Product:
Liquid Castile Soap











Dapat dibeli di (scan QR code):









This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

Jan 3, 2018

7 Alarm Tubuh yang Perlu Diwaspadai, dari Kembung hingga Lelah


TEMPO.CO, Jakarta - Masih banyak orang yang tidak sadar pentingnya menjaga tubuh tetap sehat. Bahkan banyak juga yang mengabaikan kondisi fisik tubuhnya dan tidak mengetahui dia sedang sakit, hingga akhirnya kondisi tubuhnya memburuk.

Tubuh sebenarnya memberikan tanda atau sinyal jika terdapat gangguan di dalamnya. Dan tanda ini kerap diabaikan.

Tanda-tanda itu tidak harus berupa badan yang panas, pilek, dan batuk yang jelas terlihat oleh mata. Lantas, bagaimana sebenarnya tanda-tanda tubuh Anda sedang memberikan sinyal bahwa Anda sedang tidak sehat. Berikut ini tanda tersebut seperti dilansir Boldsky.com.

1. Kembung
Jika Anda terus-menerus kembung, mungkin bukan hanya gas, tapi bisa menjadi pertanda penyakit serius seperti alergi makanan, bisul perut, dan bahkan kanker usus besar.

2. Bau Gas
Bila perut kembung Anda terasa pedas setiap saat (dan tidak hanya sesekali), itu tidak normal dan bisa mengindikasikan sejumlah gangguan pencernaan. Termasuk juga ketika Anda sering buang gas dengan bau menyengat.

3. Kelelahan
Apabila Anda merasa lelah tanpa alasan apa pun, Anda tidak boleh menganggapnya enteng, karena bisa mengindikasikan sejumlah penyakit, dari anemia sampai kanker.

4. Napas Buruk
Jika Anda memiliki bau mulut, bahkan dengan kebersihan mulut yang baik, itu bisa menunjukkan kondisi yang dikenal sebagai halitosis atau bahkan bisa menjadi sinusitis.

5. Sakit Kepala Konstan
Jika Anda mengalami sakit kepala secara teratur, jangan berpikir bahwa ini adalah masalah sederhana yang akan hilang, karena bisa mengindikasikan keseluruhan jenis penyakit, dari gangguan pencernaan hingga tumor otak.

6. Kram Otot
Kram otot sering bisa menjadi tanda kekurangan gizi dan osteoporosis.

7. Berat badan drop
Jika Anda telah kehilangan atau memperoleh berat dalam jumlah yang signifikan, tanpa olahraga dan diet itu juga bisa menjadi tanda kesehatan yang buruk juga.

https://cantik.tempo.co/read/news/2017/07/25/332894357/7-alarm-tubuh-yang-perlu-diwaspadai-dari-kembung-hingga-lelah

Bynaturael Product:
Liquid Castile Soap










Dapat dibeli di (scan QR code):









This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

Oct 9, 2017

Bahaya Kandungan Pembuat Busa di Shampo dan Sabun Bayi


Sodium lauryl sulphate (SLS) adalah surfaktan dan deterjen sintetis. Surfaktan berarti menghasilkan gelembung. SLS disebut juga anionic surfactant, dalam istilah yang sangat sederhana, mengurangi ketegangan permukaan terhadap air agar bisa membasahi serat dan permukaan lalu membersihkan kotoran dan minyak.

SLS banyak digunakan pada produk perawatan diri seperti sabun, sampo, dan pasta gigi. SLS juga dipakai pada produk industri seperti sabun cuci mobil dan pembersih lantai.  Selain cairan pencuci piring dan deterjen pakaian, SLS juga ada pada kondisioner rambut. SLS jadi cara paling efektif mengangkat minyak dan kotoran dari rambut karena langsung menjebak kotoran berminyak dan lalu menghilangkannya.

SLS ditambahkan ke sabun dan pasta gigi untuk mendapatkan efek pekat dan kemampuannya menciptakan busa. SLS banyak digunakan karena harganya murah dan sangat efektif membersihkan kotoran. Efek busa sabun sebenarnya tidak meningkatkan kemampuan untuk membersihkan, tapi untuk alasan visual.

SLS Di Produk Bayi
Kabar baiknya, SLS jarang digunakan di produk bayi. Produk bayi biasanya menggunakan deterjen yang lebih ringan, yang disebut sodium laureth sulphate (SLES). Kedua nama ini sangat mirip sehingga kadang membingungkan.


Bahaya SLS
Paparan pada SLS dalam jumlah banyak bisa menyebabkan iritasi kulit dan peradangan (dermatitis). Gejala yang timbul bisa berupa kering, kasar, dan kemerahan di kulit. Tapi iritasi kulit akibat paparan SLS paling mungkin terjadi setelah kontak dengan produk yang digunakan untuk tujuan industri. Produk ini biasanya menggunakan SLS tingkat tinggi. Produk perawatan kulit memiliki kandungan SLS yang jauh lebih rendah.

Ada juga beberapa rumor terkait bahaya SLS. Salah satunya mengklaim kalau SLS bisa merusak mata dan memicu kebutaan. Ada juga dugaan SLS menyebabkan kanker. Tapi semua rumor ini tidak berdasar.

SLS tidak menyebabkan kanker atau kerusakan mata. Tapi seperti kebanyakan deterjen, SLS bisa menimbulkan iritasi kulit. Jumlah iritasi yang disebabkan oleh SLS meningkat bila:
1.       Semakin lama tertinggal di kulit.
2.       Semakin tinggi konsentrasinya di produk.
3.       Semakin sering digunakan.

Meski kita tahu kalau tingkat SLS yang tinggi bisa menyebabkan iritasi kulit, persentase kandungan SLS yang sebenarnya sering kali tidak terdaftar pada label produk. Sehingga sulit untuk mengetahui berapa banyak SLS dalam sebuah produk.

Kendati tak ada yang perlu dicemaskan tentang kanker atau masalah mata, kulit bayi yang lembut bisa lebih sensitif terhadap sabun atau deterjen dibanding kulit orang dewasa. SLS memang menyebabkan iritasi, tapi deterjen biasanya tidak tertinggal di kulit untuk waktu lama sebelum dibilas. Ketika digunakan dengan cara yang tepat, produk yang mengandung SLS tidak akan menyebabkan iritasi kulit pada kebanyakan bayi dan anak kecil.

Melindungi Kulit Bayi Dari SLS
Kebanyakan produk bayi tidak mengandung SLS, jadi akan lebih mudah untuk melindungi bayi Anda. Karena kecemasan konsumen terhadap kandungan SLS, semakin banyak produk yang diklaim bebas kandungan SLS. Tapi kalau masih belum yakin, Anda bisa melakukan pencegahan sederhana. Berikut caranya:

1. Ketika memilih produk mandi untuk si kecil, cari yang khusus dibuat untuk bayi. Produk macam ini biasanya mengandung pembersih dan agen busa yang lebih ringan dan lebih lembut dibanding SLS, seperti SLES atau glukosida, yang berasal dari gula.

2. Bila menggunakan produk yang mengandung SLS, Anda bisa meminimalisir iritasi dengan memastikan tidak tertinggal di kulit bayi untuk waktu yang lama. Gunakan sabun di akhir mandi dan bilas hingga bersih.

3. Hindari produk yang mengandung SLS bila anak memiliki eczema atau kulit sensitif. Anda bisa menggunakan emollient soap. Emollient soap dapat diresepkan oleh dokter atau dibeli di apotek. Emollient soap tidak menghasilkan busa, tapi bagus untuk membersihkan kulit bayi. Tapi satu jenis emollient, yakni aqueous cream, mengandung SLS. Produk ini harus dihindari bila bayi memiliki eczema, karena membuat eczema lebih parah, terutama bila tertinggal di kulit untuk waktu lama.

Bila Anda berusaha menghindari produk yang mengandung SLS, periksa komposisi bahan pada label produk untuk beberapa nama lainnya, termasuk:
1.       Sodium dodecyl sulphate
2.       Lauryl sodium sulphate
3.       Sodium n-dodecyl sulphate
4.       Lauryl sulphate sodium salt

SLS sebenarnya deterjen surfaktan yang paling lembut. SLS dekat hubungannya dengan SLES, yang lebih ringan dan sering ada pada sampo dan pembersih untuk kulit yang sensitif. Tapi keduanya bisa menyebabkan iritasi.

Bahaya SLS kurang berpotensi ketika produk digunakan untuk waktu singkat dan tidak berkelanjutan, diikuti dengan pembilasan dari permukaan kulit yang menyeluruh. Ini berarti Anda gunakan produk pada kulit, rambut, atau gigi lalu bilas dengan baik.

Deterjen manapun bisa bersifat keras pada kulit dan rambut karena menghilangkan minyak alami dan bisa memperburuk dermatitis. Untuk alasan lain, banyak keluarga memilih menggunakan produk bebas SLS pada kulit bayi.

Selain menyebabkan iritasi kulit, berikut ini beberapa alasan lain untuk  tidak menggunakan produk yang mengandung SLS:

1.       SLS Mencemari air. SLS racun bagi ikan dan binatang air serta memiliki potensi terakumulasi di tubuh ikan. SLS tidak terdeteksi pada alat penyaring air sehingga masuk ke air keran yang Anda minum.
2.       Sebenarnya SLS adalah pestisida dan herbisida yang biasa digunakan untuk membunuh tanaman dan serangga.
3.       SLS memancarkan uap racun ketika dipanaskan. Sodium oksida dan sulfur oksida yang beracun terlepas ketika SLS dipanaskan. Jadi mandi air panas dengan shampo mengandung SLS sangat tidak dianjurkan.
4.       SLS Memiliki bagian yang bersifat korosif, termasuk korosi lemak dan protein pada kulit dan otot.
5.       Pada jangka panjang SLS bisa meresap ke jaringan tubuh. SLS memiliki kemampuan untuk merembes ke mata, otak, hati, dan liver.
6.       SLS menyebabkan iritasi mata. SLS dapat mengganggu pembentukan mata yang semestinya pada anak.
7.       Kontaminasi nitrat dan pelarut lain. Pelarut yang beracun, termasuk nitrat karsinogenik digunakan pada pembuatan SLS, dan tersisa pada produk.
8.       Proses pembuatan SLS sangat berpolusi, menghasilkan kumpulan organik yang mudah menguap dan menyebabkan kanker dan kumpulan sulfur.
9.       SLS membantu bahan kimia lain masuk ke tubuh. SLS memiliki molekul yang sangat kecil dan bisa masuk ke membran sel tubuh. Selanjutnya sel jadi lebih rentan pada bahan kimia beracun yang ada pada SLS.

Anak tumbuh dan berkembang dengan cepat dan tak ada penelitian lengkap tentang efek beberapa bahan kimia pada perkembangan anak. Anak kecil lebih rentan terhadap racun dan polusi dibanding orang dewasa. Bayi perlu waktu berbulan-bulan untuk bisa kembali normal lagi saat mengalami masalah kulit. Jadi orang tua perlu berhati-hati dalam penggunaan produk sabun, sampo, popok, dan pelembab.

Dibanding berat badannya, anak makan lebih banyak, minum lebih banyak, menghirup udara lebih banyak dibanding orang dewasa. Ini menyebabkan mereka memiliki risiko tinggi terpapar bahan kimia dan polusi dari udara, makanan, dan produk perawatan bayi yang digunakan pada kulit. Disinilah pentingnya peran orang tua dalam memilih produk perawatan bayi yang baik. Membaca label produk tetap penting untuk memastikan tidak ada bahan kimia yang bisa merusak kulit si buah hati.

https://www.ibupedia.com/artikel/balita/bahaya-kandungan-pembuat-busa-di-shampo-dan-sabun-bayi

Bynaturael Product:
Liquid Castile Soap












Juga tersedia di (scan QR Code):










This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

Aug 18, 2017

Benarkah Susu Bisa Dipakai Mengobati Keracunan?


KAHFI DIRGA CAHYA |Kompas.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Susu selama ini sering digunakan sebagai pertolongan pertama untuk mengobati seseorang yang keracunan. Tapi, apakah Anda tahu alasannya? Dan benarkah susu bisa dijadikan obat penawar keracunan?

Menurut Dr. dr. Ariani Dewi Widodo SpA(K), susu bukanlah obat untuk keracunan. Namun susu bisa memberi manfaat tertentu saat seseorang mengalami kondisi tersebut.

"Manfaat susu itu pertama untuk dilusi, artinya untuk pengenceran. Jadi saat seseorang keracunan, kalau kita memberikan cairan dalam jumlah besar, otomatis kadar racun jadi kecil," kata Ariani saat diskusi bersama Forum Ngobras di KalaKopi, Menteng, Jakarta Pusat, Senin (14/8/2017).

Manfaat lain susu adalah bisa melapisi saluran cerna. Susu, kata Ariani, bisa membilas sehingga seseorang tidak mengalami penyempitan saluran cerna. Susu juga mengandung laktosa, sehingga bila dikonsumsi dalam jumlah besar, maka ia akan cepat juga dikeluarkan. Apalagi untuk orang yang tidak dapat menampung susu dalam jumlah banyak atau intoleran laktosa.

"Kalau kita minum susu banyak, perut akan merasa tidak enak lalu buang air. Itu yang kita butuhkan untuk mengeluarkan racun," kata dia.

Lantas bagaimana dengan air putih? Ariani mengatakan air memiliki beberapa fungsi serupa susu seperti membilas, mendilusi serta membuat lebih encer. "Tapi enggak ada fungsi mengeluarkan dengan kecepatan tinggi," kata dia.

Meski demikian dia tetap mengingatkan bahwa susu tidak direkomendasikan untuk pengobatan keracunan. Bila memang mengalami keracunan maka disarankan untuk dibawa ke dokter. "Kalau sampai ke dokter nanti dipasang selang ke lambung, dibilas. Dikasih air banyak, disedot lagi, dikasih air banyak disedot lagi sampai racun habis," kata Ariani.


http://lifestyle.kompas.com/read/2017/08/14/172441920/benarkah-susu-bisa-dipakai-mengobati-keracunan-

Bynaturael Product:
(Wholesale order is welcome)
Liquid Castile Soap










Available at (Please scan the QR code):
TOKOPEDIA










SHOPEE











This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

Apr 21, 2017

5 Pembersih Alami yang Bebas Bahan Kimia Berbahaya


Azwar Anas

Liputan6.com, Jakarta Menjaga kebersihan merupakan hal yang penting, namun tidak jarang produk pembersih yang kita gunakan, mengandung bahan kimia yang ternyata berbahaya.

Tahukah Anda? Ternyata ada bebarapa bahan alami yang dapat digunakan sebagai solusi untuk membersihkan barang-barang di sekitar rumah Anda, tanpa harus khawatir dengan kandung bahan kimia berbahaya yang ada di dalamnya. Pembersih alami yang dapat Anda gunakan ini, tentunya lebih murah dan lebih aman untuk digunakan, terutama terhadap anak-anak di rumah.

1. Gunakan Tepung Untuk Membersihkan Benda Stainless Steel
Tepung merupakan bahan yang sangat baik bila digunakan untuk membersihkan benda berbahan dasar stainless steel, dengan menggunakan tepung, benda stainless steel akan lebih bersih dan berkilau. Caranya cukup sederhana, taburkan sedikit tepung kering ke benda berbahan stainless steel yang ingin Anda bersihkan. Kemudian usap bagian yang sudah ditaburi tepung dengan menggunakan kain berbahan lembut. Setelah itu, beri sedikit minyak goreng pada kain, lalu gosok secara perlahan benda stainless steel yang ingin Anda bersihkan. Seketika benda berbahan stainless steel Anda akan menjadi bersih dan lebih berkilau.

2. Membersihkan Aluminium dengan Kulit Apel
Asam yang terkandung di dalam kulit apel akan menghapus noda dan perubahan warna yang terjadi di peralatan masak berbahan aluminium. Caranya cukum mudah, isi panci dengan air dan kulit apel. Kemudian rebus kulit apel yang direndam di dalam panci berisi air, lalu didihkan selama sekitar 30 menit. Air rendaman kulit apel tersebut, nantinya dapat dijadikan sebagai pemberih peralatan masak berbahan alumunium. Cukup mudah bukan?

3. Tepung Jagung Untuk Membersihkan Cermin dan Kaca Jendela
Ketika kaca jendela rumah Anda kotor, maka hal tersebut akan menghalangi masuknya cahaya matahari ke dalam rumah Anda. Ketika Anda ingin bercermin, namun cermin tersebut tampak kotor, maka akan membuat Anda kesulitan melihat diri Anda di cermin. Namun hal tersebut dapat diatasi dengan membersihkannya menggunakan bahan alami, yaitu tepung jagung. Untuk membersihkan kaca jendela dan cermin, cukup campurkan 2 liter air hangat dengan 1/2 cangkir tepung jagung. Gunakan spons sebagai media pembersih, gosok perlahan spons yang sudah direndam air hangat yang dicampur tepung jagung ke kaca jendela atau cermin. Seketika, kaca jendela dan cermin akan menjadi lebih bersih dan berkilau.

4. Menghilangkan Noda Lumpur dengan Potongan Kentang
Hal paling menjengkelkan ketika harus mencuci pakaian adalah ketika pakaian tersebut terdapat noda lumpur, sering kali hal tersebut membuat khawatir bila noda lumpur tidak dapat hilang. Kali ini Anda tak perlu lagi khawatir, karena hanya dengan memanfaatkan potongan kentang, maka noda lumpur di pakaian dapat dihilangkan. Caranya cukup sederhana, potonglah kentang yang berukuran besar, lalu gosok potongan kentang tersebut pada noda lumpur sebelum pakaian itu dicuc. Potongan kentang tersebut akan memecah kotoran lumpur yang terdapat pada pakaian, sehingga dalam proses pencucian, noda lumpur akan lebih mudah hilang.

5. Membuat Tembaga Dan Kuningan Lebih Berkilau Menggunakan Lemon
Jika Anda memiliki benda yang terbuat dari bahan tembaga dan kuningan, Anda dapat memanfaatkan buah lemon sebagai pembersih alami, dan tentunya jauh lebih aman dibandingkan menggunakan produk pembersih yang mengandung bahan kimia. Caranya dengan memotong lemon menjadi dua bagian, lalu taburi kedua potongan lemon tersebut dengan garam secukupnya. Potongan lemon yang sudah ditaburi garam tersebut, dapat Anda gunakan dengan cara menggosokannya ke benda yang ingin dibersihkan. Setelah selesai menggosoknya dengan lemon, bilas benda berbahan tembaga atau kuningan dengan air.

Dengan bahan-bahan alami tersebut, Anda tak perlu lagi takut atau khawatir dengan produk pembersih yang mengandung bahan kimia berbahaya. Tentunya sangat mudah bila Anda terapkan dalam kehidupan sehari-hari. Tertarik untuk mencobanya

http://citizen6.liputan6.com/read/2833722/5-pembersih-alami-yang-bebas-bahan-kimia-berbahaya

Bynaturael Products:
Liquid Castile Soap










This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

May 3, 2016

6 things your looks say about your health

By Jodi Helmer

Got lackluster locks? Or a scaly patch on an elbow? Your body may be trying to tell you something.

"There are huge links between how we appear on the outside and what's happening inside," said Dr. Ramsey Markus, an associate professor of dermatology at Baylor College of Medicine in Houston.

Even the most common beauty woes, like brittle nails and a dull complexion, can hint at issues beneath the surface. Give yourself a once-over for these six superficial signs you should see your doctor.

If you have: Thick, dark facial or body hair
It might mean: Polycystic ovary syndrome (PCOS).

"We're not talking about a few wispy strands," said Dr. Zoe Stallings, a family physician at Duke Medicine in Durham, N.C. "This is a thick coat of 'I have sideburns that tweezers can't handle' hair."

It tends to sprout in places where men grow hair (like the cheeks, chin, chest and back) and may be due to elevated levels of male sex hormones—a common symptom of the endocrine disorder PCOS, which can increase your risk of infertility and diabetes. Ask your doc for a blood test.

Birth control pills and lifestyle changes like losing excess weight (even just a few pounds) can reduce symptoms. Your MD might also prescribe a steroid to help correct the hormone imbalance or a cream that inhibits the growth of facial hair. Another option: talking to your dermatologist about laser hair removal.

"The pro is that it's effective," Stallings said. "The con is the price."

Each session costs around $300, though some insurance plans will cover the treatment.

If you have: A brittle nail
It might mean: Fungus. It's disgusting but true—your nail bed is a perfect home for fungi.

"They like having a warm, moist layer of skin to feed off," Markus explained.

When a parasite moves in, your nail may start to split or crumble at the edges. A derm might prescribe medication. It may also help to limit exposure to moisture by wearing gloves to do the dishes or changing socks after a workout.

If the nails on both hands are brittle, you can probably blame overzealous hand washing; a supplement could do the trick. Vitamins containing keratin, in particular, improve nail strength, according to a 2014 study.

If you have: A scaly red patch
It might mean: Psoriasis.

This rash isn't just a skin problem. Psoriasis is an autoimmune disorder that can crop up at any age and is linked to inflammation throughout the body (experts are unsure if psoriasis causes inflammation or vice versa).

Lesions—typically on the scalp, elbows and knees—are a common symptom, but moderate to severe psoriasis is also connected to cardiovascular disease, according to a longitudinal study published last fall. Fortunately, "your risk of heart attack goes down when you treat a more severe case of psoriasis," said Dr. Jennifer Chen, clinical assistant professor of dermatology at Stanford School of Medicine.

See your derm: A variety of oral and topical meds, as well as phototherapy, can reduce outbreaks.

If you have: Persistent acne
It might mean: A hormonal imbalance. Breakouts aren't just for teens and tweens.

"Acne may recur during perimenopause," Chen explained.

As estrogen and progesterone levels drop, your hormonal balance can tip toward testosterone, which triggers a surge in the production of pore-clogging oil.

"Like menopause itself, this acne varies in duration and intensity," Chen said, though the pimples often appear on the jawline. The good news, Chen said: "We have great medications to prevent acne. You just have to be proactive about it."

If you have: Dry, blotchy skin
It might mean: An omega-3 deficiency.

"As we age, our sebaceous glands produce less oil that lubricates skin," said Dr. Valori Treloar, co-author of “The Clear Skin Diet.”

Omega-3 fatty acids help keep your complexion healthy-looking in part because they protect dry skin from developing inflammation. If you have a deficiency, your skin may become itchy and blotchy, Treloar said. Eat plenty of foods rich in omega-3s, like walnuts, flaxseed and cold water fish. Still worried you're not getting enough? Consider taking a fish oil supplement.

If you have: Thinning hair
It might mean: Hypothyroidism.

When your thyroid gland is underactive, too many of your hair follicles go into resting mode. As strands naturally shed, they aren't replaced, and "women start to notice that their scalp is showing," Stallings said. Synthetic hormones and other remedies can help. Another possible culprit: low estrogen. For women in menopause, a B complex multi with collagen may restore thinning tresses, Stallings said. If you've just had a baby (another cause of an estrogen dip), don't fret: Your hair's volume should return to normal by the time your little one is six months old.

http://www.foxnews.com/health/2015/06/06/6-things-your-looks-say-about-your-health/

Bynaturael Products:
Liquid Castile Soap with essential oil
Liquid Castile Soap
This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

Nov 24, 2015

Is Sea Salt Really Healthier Or Just Overhyped?


Hawaiian black lava, Himalayan pink, Bolivian rose, Peruvian pink mountain spring.  These aren’t nail polish colors — they’re varieties of salt, and they’re just a sampling of the dozens of options now available from specialty markets and online vendors. Sea salts and other finishing salts have grown popular among chefs and foodies, who use them to add interesting flavor notes and a pop of color to dishes. They offer more complexity than standard table salt, which is processed to remove minerals and other harmless impurities, giving the salt its bright white color and uniform texture.

But trendy artisanal salts aren’t just being positioned as more flavorful. Many producers and aficionados claim that sea salts are healthier than table salt because they’re more natural and less refined. They’re also praised for containing a bounty of essential trace minerals. And the alleged advantages don’t stop there. Company websites promise that sea salts can eliminate toxins, balance the body’s pH, boost circulation, enhance digestive health, and supply antioxidants, to name a few purported benefits.

Seeing Through Sea Salt’s Healthy Hype
These lavish claims aren’t supported by science. Specialty salt purveyors, like so many other food companies, are playing into many consumers’ belief that natural must mean better for you. But from a health perspective, salt is salt, and eating too much of it in any form can increase the risk for high blood pressure and other downstream health problems. Also, salt isn’t a good source of minerals like calcium, magnesium, and potassium. The miniscule amounts it contains don’t make a dent in your body’s requirements. Relying on salt as a mineral source is equivalent to eating white pasta to boost your fiber intake or guzzling honey to get more magnesium and iron in your diet — it’s just not efficient, nor is it health-promoting.

Marketing salt as unrefined creates an undeserved health halo. When grains are refined from their whole form, there is a substantial loss in nutritional value. That’s not the case with refined salts because salt isn’t a meaningful source of nutrients to begin with (except sodium and its partner chloride, of course). The same goes for unrefined sugars like evaporated cane juice and date sugar. And the glorification of unrefined salts and sugars takes the focus off the truly important issue: that people need to eat less of these ingredients. While health authorities still disagree about optimal sodium intake for adults and how low recommendations should go, it’s clear that we are currently consuming too much.

Whether you prefer regular table salt, kosher, or fancier varieties, it’s important to use salt judiciously. In my experience, it’s easy to get carried away with salts that come in large crystals or flakes because a light sprinkling of granules looks sparse, but actually supplies a lot of sodium. My advice is to use all salt sparingly and consciously underseason your food so you can gradually adjust to using less. As an avid home cook myself, I know it can be a struggle, but it will serve your heart well in the long run.

Salt: The Iodine Question
One major difference between table salt and specialty salts is the iodine content. Standard table salt is voluntarily fortified with iodine, a mineral that’s essential for normal thyroid function (a quarter teaspoon supplies about 50 percent of the 150 micrograms adults need daily). Other varieties, including kosher and sea salts, are not fortified and therefore supply no iodine. The vast majority of salt used in processed foods also has no added iodine. Iodized salt isn’t the only source of the nutrient, however. Fish and shellfish, dairy products, bread and other grain products, and eggs supply iodine as well. Federal survey data shows that most Americans have adequate iodine levels, but some populations are at risk for low intake.

Women who are pregnant or breastfeeding need extra iodine (220 and 290 micrograms, respectively), and approximately one-third of pregnant women in the United States are marginally deficient. Iodine is critical for babies’ growth and cognitive development, so it’s important to get enough. The American Thyroid Association recommends that women who are pregnant, breastfeeding, or planning to become pregnant take a prenatal vitamin that includes 150 micrograms of iodine in the form of potassium iodide. If you are currently taking a prenatal supplement, review the label to determine if contains iodine, because some formulations still do not.

As a group, strict vegans appear to have lower iodine levels compared to vegetarians and omnivores because many of the richest sources are of animal origin. One good plant-based option is seaweed, which can be consumed in sushi rolls, salads, or even the crunchy baked snacks that are now sold by some mainstream companies. Seaweed can be highly concentrated in iodine, but the amount is variable among different types, and you need to eat it consistently, several times a week, for it to be a significant source. Consuming excessive amounts can provide too much of the mineral, so it’s important not to go to extremes.

Unfortunately, there is no reliable way to assess an individual’s iodine level, so if you’re concerned, it’s best to work with a registered dietitian or well-informed physician to determine if you might benefit from a supplement. For individuals who may have a low iodine intake, using iodized salt in place of other varieties when cooking is a good idea, but it’s not a reason to sprinkle on more salt.

http://www.huffingtonpost.com/entry/is-sea-salt-really-healthier-or-just-overhyped_563149efe4b00aa54a4ca8b4?utm_hp_ref=healthy-living

Bynaturael Products:

Liquid Castile Soap with essential oil
Liquid Castile Soap
This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

Sep 14, 2015

10 house plants that help you sleep


Source: http://www.healthcentral.com/common/includes/guides/guides/sleep-disorders/Houseplantsforsleep.pdf?1411756560

Bynaturael Products:
Liquid Castile Soap with essential oil
Liquid Castile Soap
This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com

Mar 25, 2015

Hormone replacement therapy linked to increased risk of ovarian cancer, study finds


An analysis of over 50 studies suggests an association between short-term use of hormone replacement therapy (HRT) during menopause and a 40 percent increased risk of developing ovarian cancer.

The study, published Thursday in the journal The Lancet, reviewed data from 21,488 women who lived in North America, Europe and Australia. Researchers observed that women who used HRT for only a few years were more likely to develop the two most common types of ovarian cancer, compared to women who had never taken HRT. Those types are serous epithelial and endometrioid ovarian cancer. HRT use was not linked to an increased risk of the other two main types of ovarian cancer: mucinous and clear cell ovarian cancers.

HRT for menopause is meant to replace hormones that the body no longer makes after menopause. Doctors used to prescribe it as a standard treatment to relieve hot flashes and other menopause symptoms, according to the Mayo Clinic. A large clinical study later suggested one type of the treatment— the estrogen-progestin pill Prerempo— posed more risks than benefits, and doctors started to become less inclined to prescribe it as a result. Those risks included heart disease, stroke, blood clots and  breast cancer.

However, that decrease in use has now leveled off, according to a news release for the current study. About 6 million women in the United Kingdom and the United States use HRT today to relieve menopause symptoms, including hot flashes, night sweats and vaginal symptoms like dryness, itchiness, burning and discomfort during sexual intercourse.

The new research analyzed use of the two most common types of HRT used during menopause: those containing only estrogen or those containing a combination of estrogen and progestagen.

Study author Sir Richard Peto, a medical statistics and epidemiology professor at the University of Oxford, said in the news release that his team’s research suggests that, among women who take HRT for five years starting at about age 50, there will be about one extra ovarian cancer diagnosis for every 1,000 users and one extra death from ovarian cancer for every 1,700 users. 

For the meta-analysis, over 100 scientists worldwide analyzed individual participant data from 52 studies— a body of research that they say encompassed all of the epidemiological evidence ever gathered on HRT use and ovarian cancer.

Study authors saw an increased risk of ovarian cancer among current users as well as those who had used the treatment within the past five years, but that risk declined over time after stopping treatment. But, among women who had used HRT for at least five years, that risk remained 10 years later.

"The definite risk of ovarian cancer even with less than five years of HRT is directly relevant to today's patterns of use— with most women now taking HRT for only a few years— and has implications for current efforts to revise U.K. and worldwide guidelines,” study author Dame Valerie Beral, epidemiology professor at the University of Oxford, said in the news release.

Researchers noted the increased risk was not altered by the age at which HRT began, body size, past use of oral contraceptives— which are thought to protect against ovarian cancer— hysterectomy, alcohol use, tobacco use, or family history of breast and ovarian cancer.

Current HRT guidelines from the World Health Organization (WHO) as well as those in the U.S. and Europe don’t mention ovarian cancer as a risk, the news release noted. The U.K. guidelines associate a risk with long-term use.

http://www.foxnews.com/health/2015/02/13/hormone-replacement-therapy-linked-with-increased-risk-ovarian-cancer-study/

Bynaturael Products:
Liquid Castile Soap with essential oil
Liquid Castile Soap
This document is provided for reference purposes only and not necessarily reflect the opinion of bynaturael’s team . Train your mind to test every thought and keep on searching the final truth that satisfies the conscience inside you. Please visit our blog: bynaturael.blogspot.com